Thursday, December 4, 2008

nasionalisme berbanding lurus dengan konflik?

Tadi malam saya sempat bertanya pada salah satu keponakan saya, siapakah pahlawan favoritmu? dia menjawab "Naruto Om!"
Lalu mulai terlintas mengenai keadaan sekarang, dimana generasi muda yang nasionalismenya semakin berkurang. Mungkin karena kita terlalu manja sekarang ini, dimanjakan oleh fasilitas, dimanjakan oleh hiburan, dimanjakan oleh gengsi, padahal semua itu kan adalah berupa hutang yang harus kita bayar ke luar. Ternyata kenyamanan tidak selalu berimbas positif.
Terbayang juga bagaimana para pendahulu kita begitu bangganya dengan Bangsa Indonesia, walaupun kita dalam kemelaratan. Apa mungkin karena akhir2 ini kita tidak pernah mempunyai konflik yang besar dengan negara lain? saya ingat, bagaimana nasionalisme mulai tergugah ketika kita punya konflik dengan malaysia tentang kepulauan ambalat, tapi kini dingin lagi.
Saya pernah mendengar slogan bahwa kita akan merasa satu apabila kita punya musuh yang sama, tapi apabila itu tidak ada. Maka kita akan mulai saling menyakiti satu sama lain dan mencari nilai kebenaran sendiri. apa kita sebagai suatu bangsa harus memulai konflik? agar rasa satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa itu tumbuh kembali?